FAKULTAS VOKASI UNTAG SURABAYA SUDAH MULAI MENJALANKAN PROGRAM DIRJEN VOKASI “NIKAH MASAL PENDIDIKAN TINGGI VOKASI DENGAN DUDI”

Rabu, 29 Juli 2020 - 09:38:31 WIB
Dibaca: 231 kali

Fakultas Vokasi Untag Surabaya siap melaksanakan Program yang diluncurkan Direktur Jenderal (Dirjen) Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) yaitu “NIKAH MASAL PENDIDIKAN TINGGI VOKASI DENGAN DUDI” dengan menjaring Kerjasama dengan perusahaan - perusahaan di wilayah Surabaya-Sidoarjo dalam hal :

  1. Magang Industri dan Recruitment Lulusan Fakultas Vokasi Untag Surabaya
  2. Dosen Praktisi Industri
  3. Penyusunan kurikulum sesuai dengan standart Industri
  4. Dan kegiatan lainnya sesuai dengan kesepakatan.

Wikan Sakarinto Mantan Dekan Sekolah Vokasi UGM yang sekarang menjabat sebagai Direktur Jenderal (Dirjen) Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengatakan bahwa vokasi harus terus melakukan inovasi dan terobosan. Meski sebagian besar sudah berkolaborasi dengan DUDI. “Kami mendorong agar vokasi benar-benar ’menikah’ dengan dunia usaha dan industri. Kurikulum harus kolaborasi, pengajar tamu rutin, ada sertifikasi kompetensi bagi mahasiswa yang sudah magang, dan penyerapan lulusan harus dilakukan lebih. Jangan pernah puas, selalu perbaiki berinovasi lebih sempurna lagi, harus kita kejar,”

Menurut Wikan, kemampuan berkomunikasi adalah hal yang utama dalam menjalin kerja sama dengan dunia usaha dan industri. Industri, kata dia, akan senang jika diajak berdiskusi tentang kebutuhan mereka dan mau berhubungan baik dengan pemerintah. “DUDI yang punya mindset bahwa SDM adalah investasi yang sangat strategis dan fondasinya ada di dunia pendidikan, pasti mau bekerja sama ,” urai Wikan.

Wikan menambahkan, apabila Kemendikbud bisa buktikan lulusan vokasi sesuai dengan kebutuhan industri, maka sangat mungkin DUDI berebut untuk bekerja sama dengan para lulusan. Kementerian, lajutnya, bahkan mau membuat prodi khusus yang menjadi kebutuhan. “Kuncinya adalah komunikasi, kesepakatan, komitmen, maka akan tercipta kepercayaan, trust,” kata Wikan.

Wikan kembali menjabarkan hal-hal yang perlu dilakukan dalam mempercepat implementasi konsep tersebut. Pertama sepakati tujuan, apa yang ingin diciptakan dan ramu mekanismenya bersama-sama. Kedua, undang tenaga ahli untuk mengajar dalam kerangka kurikulum yang telah disepakati. Ketiga, susun program magang di DUDI yang konsepnya didesain bersama-sama, evaluasi prosesnya dan terus perbaiki. Keempat, beri legalitas kepada peserta yang telah selesai magang berupa sertifikat kompetensi yang disahkan oleh perguruan tinggi dan industri. “Akan sangat baik jika lulusan magang bisa menghasilkan prototype yang real berbasis masalah yang ditemukan di DUDI,“ imbuh Wikan.

Kelima, dunia usaha dan industri bisa berkontribusi kepada mahasiswa vokasi dengan pemberian beasiswa, ikatan, dinas, maupun sumbangan alat praktik. Alat-alat praktik yang bagus dapat menunjang pembelajaran. “Wajar bagi industri memiliki alat-alat canggih sesuai perkembangan teknologi karena ia berhubungan langsung dengan pasar profesional yang mengedepankan tuntutan kualitas produk barang maupun jasanya. Akan sama baiknya jika mahasiswa memiliki alat peraga yang relevan untuk mendukung proses pembelajarannya,” urai Dirjen Vokasi itu.

Keenam, libatkan mahasiswa dalam membuat produk inovasi dosen maupun perguruan tinggi, kemudian buat patennya dan produksi secara massal agar lebih berdaya guna bagi masyarakat luas. Ini yang disebut teaching industry. “Bisa dibayangkan, pernikahan massal ini harus terjadi secara simultan dan tidak berhenti untuk improving,” kata Wikan.

Dengan Program Direktur Jenderal (Dirjen) Vokasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Fakultas Vokasi sangat siap menjalankan program tersebut ini dibuktikan dengan sudah menjaring hampir 20 Perusahaan diwilayah Surabaya-Sidoarjo. Kerjasama tersebut akan terus ditingkatkan sehingga dapat membentuk Kolaborasi DUDI dengan Fakultas Vokasi Untag Surabaya.